Chat with us, powered by LiveChat

News & Events Updates

597 hari yang lalu

597 hari yang lalu

Hari ini seperti hari biasanya, jalanan yang kulewati, senyum para petugas yang kusapa, salamku untuk setiap rekan yang kutemui, si batita itu… Tangga itu, kursi ujung di sebelah jendela, meja kerjaku, semuanya sama. Namun tak dapat kupungkiri, perasaan inilah yang berbeda.

1… 2… 3… 14… 49… Kalau tidak salah… 597 hari yang lalu…

Aku hanyalah seorang pengangguran lulusan komunikasi yang mencoba peruntungan di desain grafis yang tak aku kira sebelumnya. Aku hanyalah seorang yang bermodal kemauan untuk belajar, aku hanyalah seorang yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan…

597 hari yang lalu, adalah Daniel yang pertama menyapaku. Dia bercerita dia adalah petugas kebersihan di kantor itu. Namun aku tak percaya begitu saja, mana mungkin seorang petugas kebersihan berpakaian modis seperti itu. Tak lama kemudian datang seorang perempuan, aku menebak usianya tak jauh dariku namun dengan tinggi badan yang tentunya jauh dariku. Orang tuanya menamakan dia Cheren. Rupa-rupanya tinggi badan tak mencerminkannya sebagai pribadi yang kecil, namun seorang wanita berpemikiran matang yang memiliki sikap sistematis, dan pandai menyusun jadwal. Pantas saja jarang sekali dia menuliskan tambahan jam kerja lembur pada jadwalnya.

Seorang perempuan lagi datang, namanya Stevi. Wanita ini pernah menjadi teman dekatku. Karena sifatnya yang polos, lugu dan lucu, membuatku betah bercerita saling bertukar pikiran dengannya. Wanita ini pula yang mengajarkanku tentang arti sebuah ketulusan, kebaikan yang hakiki, dan keceriaan. Tak pernah kulihat wajahnya murung seharipun selama ini.

Belum selesai aku bercengkrama dengan Stevi, datang seorang lelaki dengan liuk tubuhnya bak permadani Aladdin. Aku memanggilnya Kevin, dan memang itu namanya. Lelaki ini aku akui sebagai sahabatku. Seorang rekan, seorang kawan, dan seorang tempat berbagi susahan dan senang. Terlalu banyak suka duka yang kami lalui bersama untuk diceritakan. Mulai dari lembur bersama, tertawa dan mentertawakan orang bersama, bersedih, bersusah payah, bahkan berdiskusi bersama. Dan satu yang paling kusuka darinya, adalah gaya tidurnya yang tidak bergerak dan tidak berisik. Jadilah dia andalanku saat harus menginap ketika acara gathering kantor.

Derap kaki yang kencang, diikuti dengan alis naik sebelah, datanglah dia menyambut seluruh isi ruangan ini. Dialah Philbert namun dia lebih suka dipanggil Gilbert, karena menurutnya nama Philbert akan lebih susah dinalar dan dimengerti. Masuk akal menurutku… Di kantor ini, dia terkenal sebagai vampir, karena hobby-nya yang aneh. Bergadang… Memang aneh, tapi itu benar terjadi dulu.. Pria ini aku akui seorang yang suka bekerja keras, rasa bertanggung jawab yang tinggi, dan memiliki keahlian yang jauh di atas rata-rata. Namun sayang, kadang dirinya sedikit susah untuk diajak bicara karena responnya yang sering terlambat.

Usai acara perkenalan, tibalah pekerjaan pertamaku. Membuat desain company profile untuk sebuah bank swasta. Mungkin bagi mereka ini adalah pekerjaan termudah saat itu, namun bagiku, hal ini adalah tantangan tersendiri mungkin bisa dibilang seperti beban. Di sinilah aku merasa sangat terbantu oleh mereka, mereka tidak lalu membiarkanku berjalan sendiri. Mereka membantuku, mulai dari mengajariku menggunakaan beberapa software dan bermacam tools, maupun menunjukkanku metode-metode kerja yang akan meringankan pekerjaanku.

Tak terasa, tibalah saat istirahat makan siang tiba, kulanjutkan perbicanganku dengan mereka yang sempat terputus karena pekerjaan tadi. Dari situ, aku tahu bahwa Daniel yang tadi mengaku seorang petugas kebersihan adalah adik dari bos. Jabatannya di sini adalah sebagai marketing, pencari pundi-pundi uang bagi perusahaan.

Sambil menyendok setiap bulir nasi ke dalam mulutku, seorang wanita yang bertinggi badan hampir setara denganku masuk ke ruang makan bersama seorang lelaki paruh baya yang tak pernah absen dengan senyumannya. Mereka adalah Melina dan Pak Andre. Melina adalah staf keuangan, sedangkan Pak Andre adalah kepala produksi di kantor ini. Aku menyalami mereka dengan senyuman, namun senyumku dibalas kecut oleh perempuan itu, Belakangan aku tau kalau-kalau karakternya memang seperti itu, tak bisa langsung akrab seorang yang baru berkenalan dengannya. Ketegasan dan terkesan galak adalah imej yang terlihat darinya, namun dibalik itu semua dia adalah orang yang ramah, dan ceria. Aku sangat suka bercanda dengannya, sarkasme dan gosip menjadi parodi tersendiri bagi kami sehari-hari. Dan orang yang membalas senyumku tadi, si Pak Andre, adalah seorang yang dewasa secara lahiriah maupun batiniah. Pria inilah partner sejatiku dalam diskusi, seringkali kami suka membahas tentang lika-liku kehidupan dan sama-sama mencoba mengeja masa depan. Dia adalah seorang yang sangat bijak, tak pelak berjam-jam berdiskusi dengannya aku tak pernah merasa bosan.

Kenyang dengan makan siangku, sejenak aku keluar mencari udara segar. Disitu kutemui dua orang lelaki paruh baya, yang satu kekar berisi, yang satu terlihat kurus seperti tanpa tulang. Adalah si gemuk bernama Pak Ali, dan si kurus bernama Pak Yanto. Keduanya adalah orang yang sangat aku kagumi. Banyak sekali pelajaran berharga yang kudapat dari mereka. Kejujuran, kesetiaan, kesederhanaan, dedikasi dan apa itu tanggung jawab yang sebenarnya menjadi beberapa contoh sikap yang mencerminkan kehidupan mereka. Senyum dan tawa mereka berdua seakan penuh ketulusan, tanpa pamrih, dan memberikanku inspirasi akan hidup ini yang harusnya penuh dengan kebahagiaan tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Pukul 18.00…

Hari pun berakhir…

Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya kami lewati dengan suka duka bersama. Sampai akhirnya kami kedatangan banyak awak baru, kali ini seorang jelmaan bidadari surga. Kami memanggilnya Juju, nama asli dia Juindah Swilly Paat. Sempat tersirat keinginan untuk berkenalan lebih jauh dengannya, ternyata dia telah bersuami. Umurnya-pun jauh lebih tua dariku. Juju adalah pribadi yang sangat baik, sangat ramah, dan murah senyum sampai-sampai belum kalimat dia selesai terucap, tawa cekikikan sudah terdengar lebih dahulu dari bibirnya. Sekarang kami semua sedang bergembira dan tidak sabar karena Juju sedang mengandung anaknya yang pertama…seorang anak perempuan…. Kami sepakat memberinya nama Baby Julana..

Tak seberapa lama Juju bertugas menjadi pemandangan penenang jiwa, kami kedatangan seorang personel baru lagi. Seorang disainer… Namun karena jenis kelaminnya yang seorang lelaki, membuatku tidak terlalu tertarik kepadanya. Tapi tunggu… Semakin lama semakin aku suka karakternya, sifatnya yang gemar bercanda dan bergurau seakan menjadi klop denganku. Sampai sekarang, hobby kami sama, menjahili orang dan mentertawakan orang seakan kami ini adalah dua orang nabi yang tanpa cela. Bukan maksud kami mengerjai pribadi tertentu, tetapi itulah kami, sebisa mungkin kami ingin membuat suasana kantor menjadi ramai, menjadi hangat penuh dengan tawa dikala kami harus disibukkan dengan rutinitas kerja yang padat dan kadang menjenuhkan. Dialah si Michael Carol.

Ritme pekerjaan yang terasa semakin berat membuat kami membutuhkan segera bantuan personel desainer tambahan. Proses perekrutan yang cenderung singkat, menambatkan namanya sebagai desainer baru kantor ini. Sifatnya yang terkadang tomboy, namun terkadang feminim menjadi sisi unik tersendiri darinya. Ria Pesona.. Nama yang awalnya kukira adalah plesetan ataupun nama buatan supaya terdengar beken, ternyata adalah nama resmi yang terdaftar. Tak terlalu banyak waktu kuhabiskan dengannya di awal, karena jarak tempat duduk kami lumayan jauh, dan karena porsi kerja yang amat berbeda. Tetapi belakangan aku semakin dekat dengannya, dia bersosok ramah dan periang, dan suka bercanda. Senang bagiku untuk menjahili, dan tertawa bersamanya.

Duo Agus kemudian menjadi keluarga baru lagi di kantor ini. Agus Cah Binares yang lebih besar berperan sebagai juru masak dan juru pijat kantor dan Agus lainnya yang berpawakan lebih kecil sebagai kurir yang membantu Pak Ali untuk meringankan tugasnya. Duo Agus ini adalah pribadi yang ramah dan santun, mudah mendekatkan diri, dan punya semangat yang tinggi dalam bekerja.

Belum genap sebulan terakhir, kami kedatangan dua personel lagi, satu perempuan dan satu laki-laki. Jujur aku tak dapat berbicara banyak tentang mereka karena baru saja tiga minggu kemarin mereka bergabung di kantor ini. Si laki-laki bernama Giri, seorang yang suka penyuka budaya Jepang. Si perempuan bernama Mieke, seorang yang lucu secara pembawaan, periang dan mudah sekali bergaul. Hmm… Sepertinya tidak salah untuk mengenal perempuan ini lebih dekat.

Seorang lelaki lagi yang akan kusebutkan namanya inilah yang mempertemukanku dengan mereka. Ya, pria ini dipanggil Yohanes Auri, dialah pemimpin di kantor ini. Dialah yang memberikanku kesempatan ini. Orang yang selalu mencoba menyatukan kami sehingga tercipta sebuah ikatan kekeluargaan yang erat. Dialah atasan yang selalu ingin memposisikan dirinya bukan sebagai atasan namun sebagai seorang kakak yang peduli akan adik-adiknya, yang perhatian untuk setiap kekurangan kami. Dia adalah orang yang meng-iya-kan aku untuk bisa masuk menjadi bagian dari ikatan ini. Tak sedikit hal yang bisa kupelajari darinya, sifat pantang menyerah, semangat, optimis, selalu mengusahakan yang terbaik dan yang pasti perhatian untuk selalu berupaya membahagiakan kami. Salutku untuknya.

597 hari…

1 ikatan..

Belasan orang..

Puluhan project..

Ratusan momen..

Ribuan duka..

Jutaan tawa..

Tibalah saat dimana aku harus berpisah, bukan untuk meninggalkan mereka namun untuk mencari masa depanku yang lebih baik tentunya. Maka kutinggalkan pesan ini untuk mereka:

“Wahai teman, sahabat, keluarga, kakak, adik, paman, rekan, atau sebutan lain yang menurut kalian terdengar lebih pas untukku; kita hanya terpisah jarak, bukan berarti aku tidak dapat menghubungi kalian dan bukannya kalian lalu tidak bersua denganku. Mari kita bersama-sama tunjuk satu bintang, karena bintang yang kalian tunjuk dialah bintang yang sama dengan yang aku tunjuk. Kupanggil bintang itu sebagai “keluarga”… Jangan putuskan ikatan ini. Ketahuilah aku tidak pernah berharap kalian memuji keahlianku, namun aku lebih senang kalian memujiku karena aku berhasil menjadi seorang keluarga yang baik bagi kalian. Maafkan segala kesalahan dan kekuranganku, dan terima kasih untuk setiap cinta, kasih sayang, perhatian, kerja sama, dan segala bentuk kebaikan kalian, moril maupun materiil. Jalani hidup kalian dengan baik, dengan semangat sampai kita bertemu lagi di titik kesuksesan bersama. Salam.”

Mulai detik 0 ini, kujalani bagian hidupku selanjutnya, sebuah tantangan baru yang tidak sabar ingin segera kujalani, suka maupun duka.

Detik 0 ini aku akan berjanji untuk menjadi seorang yang lebih baik lagi, dan kalian juga harus bisa. Berjanjilah nantinya kita akan bertemu lagi di puncak kesuksesan itu.

Inilah sepenggal kisah 597 hariku selama di kantor ini. Kantor FLUX Design yang membanggakan, sebuah kantor dengan berjuta memori dan kenangan.

Dan namaku adalah Raymond Tjahyadi… Former of Flux’s Graphic Designer

Salam 🙂

Flux - Graphic Design Jakarta
Green Lake City Ruko Crown blok L 29
Tangerang 15147
  • Follow Us